Aku yang Ku Benci

by - 15.09

    Dalam hubungan orang tua dan anak pasti memiliki masalah masing-masing, begitu pun aku. Aku pernah sangat membenci orang tuaku bahkan hingga merubah kebiasanku. bukan karena urusan pentingku, seperti sekolah atau kuliah. aku sangat amat membenci mereka dulu. mungkin 2 bulanan aku tidak berbicara, bahkan pesan mereka tidak aku balas selama itu. ini terjadi di tanggal 30 November beberapa tahun lalu, setelah isya aku hanya menelfon rumah(aku tidak sedang di rumah), tanpa ada curiga apa-apa. aku menceritakan bahwa besoknya aku ada acara kelas untuk berlibur yang dinamakan makrab, seperti remaja pada seusiaku lainnya. disitu aku yang menjadi koordinator acaranya(koordinator banget gak tuh). semua seperti apa adanya. karena besok adalah hari bahagia bagi ku. menghabiskan waktu dengan bersenang-senang dengan teman-teman, merokok bersama, bermain, menghabiskan malam. begitu fikirku kala itu, tetapi saat sejam telfon ditutup, ada sebuah pesan masuk, bukan dari orang tua tetapi keluargaku yang lain. isinya berita duka berpunglangnya nenekku dari pagi sebelum subuh, ibu dari ibuku. aku tahu, meski aku bukan cucu kesayangan, bahkan namaku kadang tertukar dengan mas Haris. aku sangat amat marah dan sedih menjadi satu. ku telfon kembali orang tuaku. ali-ali menggunakan bahasa indonesia maupun basa krama yang terlihat sopan, ku gunakan ngoko "maksudmu opo, aku ra mok dudui nek mak um sedo?", begitu seingatku. aku tahu itu sangat menyakiti mereka. tapi hatiku juga sakit. orang tua yang sangat amat ku percaya bahkan tak mau memberi tahu sesuatu sepenting itu. untuk apa? kurang lebih aku berdiam diri di kamar sekitar beberapa jam hingga tengah malam dengan keadaan menangis sambil berkata jorok. saat itu aku benci semua manusia, bahkan aku sempat mengumpat tuhanku yang selalu kupanjatkan doa. setelah keadaanku sudah lumayan tenang, aku pergi ke minimarket terdekat, untuk pertama kalinya, aku membeli sebungkus rokok dengan keadaan sadar dan sangat amat ingin hal itu. tapi setidaknya aku tak membeli alkohol untuk meluapkan emosiku. seumur-umur, aku hanya meminum alkohol hanya karena wanita dan masalah akademik. sebungkus surya 16 habis sebelum subuh. gila memang, dadaku sesak karena asap lebih baik rasanya daripada sebelumnya, sesak karena manusia. paginya ku jemput temnaku, aghni, untuk berangkat ke titik kumpul, sudah dengan keadaan semua terlihat biasa-biasa saja. bahkan hingga acara selesai aku tak menunjukan rasa sedih sama sekali. aku tak mau orang tau, bahkan temanku saat itu. seminggu aklu tak keluar kamar atau menyapa kamar sebelah. bahkan kamar sebelah baru tahu aku merokok setelah dua minggu. seberapa banyak bungkus ku hisap, luka itu belom jua hilang dari lubuk. ini tak semenyaktikan patah hati karena wanita atau karena alasan akademik yang pernah ku dapat. tapi lebih dari itu. terkadang di tengah tidur, aku masih bermimpi nenekku itu. aku sangat amat menyesal beberapa bulan sebelum nenekku meninggal, aku tak sempat untuk bermain ke rumahnya, lebih mementingkan nongkrong dan nongkrong yang tanpa tau tujuannya. aku benci diriku.


You May Also Like

0 komentar